Langsung ke konten utama

Perenungan : HATI YANG JUJUR DAN TERBUKA

- Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 April 2010 -

Baca: Lukas 18:9-14

“Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihaniah aku orang berdosa ini.” Lukas 18:13

Keadaan hati kita dalah faktor penting dalam hubungan dengan Tuhan karena yang dinilai Tuhan bukanlah paras, perawakan atau pun kepandaian, melainkan isi hati kita. “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.” (1 Samuel 16:7b), sebab “Seperti air mencerminkan wajah, demikianlah hati manusia mencerminkan manusia itu.” (Amsal 27:19)

Untuk menggambarkan keadaan hati manusia, Tuhan Yesus memberikan perumpamaan: “Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai." (Lukas 18:10). Orang Farisi adalah tokoh agama yang tau banyak tentang isi Alkitab. Tapi sayang hatinya penuh kesombongan dan kemunafikan, merasa bersih dari dosa, tanpa cacat cela seperti tertulis: “Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepadaMu, karena aku tidak sama seperti orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.” (Lukas 18:11-12). Otomatis orang Farisi merasa tidak lagi memerlukan belas kasih dan anugerah Tuhan; orang sehat tentunya tidak memerlukan dokter/tabib. Sebaliknya, “...pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.” (Lukas 18:13).

Kejujuran dan keterbukaan hati si pemungut cukai telah membuka pintu rahmat Tuhan. Permohonan belas kasih yang dipahat dari jeritan hati yang remuk selalu menyentuh hati Tuhan. Tuhan berkata, “Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain (Farisi) itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Lukas 18:14).

“Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.” Mazmur 51:19

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Renungan : Kasih Ibu Sepanjang Jaman

Published by mamah Aline at 17:59 under fiksi karya mbak YSalma Hati Seorang Ibu Rahasia di balik rahasia “ Mas… mas… sudah gak kuat nih, bawa aku ke rumah sakit…!” teriakan Minuk memecah keheningan malam. Dibangunkannya sang suami yang lelap saat terasa kontraksi hebat di perut besarnya. Kesalnya memuncak, lelaki disampingnya tak kunjung membukakan mata. “Mas, gimana sih…! Perutku sakit sekali, sepertinya mau melahirkan sekarang… bangun mas, cepatlah..!” erangnya lagi. Sembari menggeliatkan raga yang terasa letih, Yus suami Minuk menyahut pelan, “Iya iya… tenang sedikit Ma, aku antar kamu ke rumah sakit sekarang.” “ Telepon Ibu, suruh kemari. Dia harus menjaga Andi anak kita selama aku di rumah sakit. Lagipula kenapa ibu sakit-sakitan terus sih…!” sungut Minuk mengomentari soal Bu Anik. Menyambar beberapa potong pakaian dan satu tas bayi, Minuk bergegas ke mobil menahan rasa mulas tak terelakkan. Tak lupa menghubungi adik-adiknya yang lain supaya menemuinya di rumah sakit...

Mengenal Tradisi Payaking Suku Abui

Tradisi "Payaking" dalam budaya suku Abui, merupakan sebuah praktik sosial yang menekankan solidaritas, kebersamaan, dan saling mendukung di antara anggota komunitas. Kegiatan ini dilakukan ketika seseorang mengunjungi rumah seseorang yang sedang mengadakan hajatan atau acara besar, seperti pernikahan, pertunangan, atau upacara adat lainnya. Ketika seseorang melakukan Payaking, mereka membawa berbagai jenis bahan makanan atau keperluan sehari-hari seperti beras, gula, kopi, atau barang-barang lainnya sebagai sumbangan untuk mendukung kelancaran acara tersebut. Tujuan dari membawa sumbangan ini adalah untuk membantu keluarga yang sedang mengadakan hajatan agar tidak terbebani dengan kebutuhan tambahan selama acara berlangsung. Selain membawa bahan makanan atau keperluan rumah tangga, Payaking juga mengandung makna sosial yang dalam. Ini adalah kesempatan bagi anggota masyarakat Abui untuk menunjukkan solidaritas dan dukungan moral kepada sesama anggota komunitas. Selain it...