Tradisi "Payaking" dalam budaya suku Abui, merupakan sebuah praktik sosial yang menekankan solidaritas, kebersamaan, dan saling mendukung di antara anggota komunitas. Kegiatan ini dilakukan ketika seseorang mengunjungi rumah seseorang yang sedang mengadakan hajatan atau acara besar, seperti pernikahan, pertunangan, atau upacara adat lainnya.
Ketika seseorang melakukan Payaking, mereka membawa berbagai jenis bahan makanan atau keperluan sehari-hari seperti beras, gula, kopi, atau barang-barang lainnya sebagai sumbangan untuk mendukung kelancaran acara tersebut. Tujuan dari membawa sumbangan ini adalah untuk membantu keluarga yang sedang mengadakan hajatan agar tidak terbebani dengan kebutuhan tambahan selama acara berlangsung.
Selain membawa bahan makanan atau keperluan rumah tangga, Payaking juga mengandung makna sosial yang dalam. Ini adalah kesempatan bagi anggota masyarakat Abui untuk menunjukkan solidaritas dan dukungan moral kepada sesama anggota komunitas. Selain itu, Payaking juga merupakan wujud dari nilai-nilai saling menghormati, saling menghargai, dan menjaga kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Proses Payaking tidak hanya sebagai tindakan formalitas, tetapi juga sebagai cara untuk memperkuat hubungan sosial dan kebersamaan dalam masyarakat Abui. Momen ini sering kali diisi dengan percakapan hangat, tawa, dan pertukaran cerita antara tamu dan tuan rumah, yang semakin mempererat ikatan emosional di antara mereka.
Secara keseluruhan, tradisi Payaking adalah salah satu bentuk dari kehidupan sosial masyarakat suku Abui yang kaya akan nilai-nilai budaya dan kebersamaan. Praktik ini tidak hanya memperkuat jaringan sosial di dalam komunitas, tetapi juga mempromosikan perdamaian, harmoni, dan kebahagiaan bersama dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Published by mamah Aline at 17:59 under fiksi karya mbak YSalma Hati Seorang Ibu Rahasia di balik rahasia “ Mas… mas… sudah gak kuat nih, bawa aku ke rumah sakit…!” teriakan Minuk memecah keheningan malam. Dibangunkannya sang suami yang lelap saat terasa kontraksi hebat di perut besarnya. Kesalnya memuncak, lelaki disampingnya tak kunjung membukakan mata. “Mas, gimana sih…! Perutku sakit sekali, sepertinya mau melahirkan sekarang… bangun mas, cepatlah..!” erangnya lagi. Sembari menggeliatkan raga yang terasa letih, Yus suami Minuk menyahut pelan, “Iya iya… tenang sedikit Ma, aku antar kamu ke rumah sakit sekarang.” “ Telepon Ibu, suruh kemari. Dia harus menjaga Andi anak kita selama aku di rumah sakit. Lagipula kenapa ibu sakit-sakitan terus sih…!” sungut Minuk mengomentari soal Bu Anik. Menyambar beberapa potong pakaian dan satu tas bayi, Minuk bergegas ke mobil menahan rasa mulas tak terelakkan. Tak lupa menghubungi adik-adiknya yang lain supaya menemuinya di rumah sakit...

Komentar
Posting Komentar